Rabu, 03 Oktober 2012

Rantau, Kampung Minyak Kampung Halamanku


Jika kita mencari di Google dengan keyword “rantau”, ada beberapa tempat di Indonesia yang bernama Rantau (atau minimal ada kata “Rantau” di dalamnya). Tapi kali ini aku akan membicarakan tentang suatu daerah di Propinsi Aceh, daerah dimana aku dan seluruh saudara kandungku dilahirkan: Rantau, Kabupaten Aceh Tamiang.

Rantau adalah salah satu Kecamatan di Kabupaten Aceh Tamiang. Merupakan sebuah dataran rendah dengan ketinggian rata-rata antara 9 – 15 meter di atas permukaan laut. Jarak dari kota Kualasimpang sekitar 4 km. Terletak pada 4°22’2.85″ LU s/d  4°15’8.92″ LU dan 98° 3’21.06″ BT s/d  98° 9’24.76″ BT, luas daerah sekitar 75,44 km2. dengan batas-batas wilayah sebagai berikut:


  • Sebelah Utara: Kecamatan Bendahara, Kecamatan Karang Baru dan Kecamatan Seruway
  • Sebelah Timur: Kecamatan Seruway dan Propinsi Sumatera Utara
  • Sebelah Selatan: Kecamatan Kejuruan Muda dan Propinsi Sumatera Utara
  • Sebelah Barat: Kecamatan Kota Kualasimpang, Kecamatan Kejuruan Muda dan Kecamatan Karang Baru.

Batas-Batas Kecamatan Rantau

Penduduk di sini beragama mayoritas Islam. Tapi suku mayoritas agak sulit di perkirakan. Disebabkan oleh adanya Komplek Pertamina disini, suku yang ada di Rantau sangat bervariasi. Akibat variatifnya suku di sini, menyebabkan bahasa yang sering digunakan adalah Bahasa Indonesia.


Komplek Pertamina yang berdiri di sini banyak memberikan pengaruh yang besar dalam hampir segala bidang. Seringnya mutasi pegawai Pertamina yang dari luar Aceh bahkan luar Sumatera, membuat Rantau tergolong cepat akan pertukaran informasi.Walaupun bukan ibukota kabupaten, hal tersebut membuat Rantau cukup diperhitungkan untuk skala Aceh Tamiang bahkan Propinsi Aceh sendiri.

Pertamina yang ada disini merupakan stasiun pengumpul dan pencari minyak atau bahasa kerennya Explorasi. Minyak dari setiap sumur di Aceh Tamiang dikumpulkan di sini untuk selanjutnya dibawa ke Unit Pengolahan Minyak yang berada di Pangkalan Berandan (Sumatera Utara) atau Dumai (Riau).

Rantau sudah dikenal sebagai ladang minyak semenjak saat Belanda menduduki Indonesia. Hal ini terbukti dari masih adanya bangunan-bangunan rumah Belanda di dalam Komplek Pertamina. Setelah Indonesia merdeka, maka Pertamina dipercaya untuk melanjutkan eksplorasi minyak di Rantau.

Rantau dapat diakses melalui 2 jalan utama. Untuk yang dari Sumatera Utara dapat melalui Jalan Rantau yang berada di kota Kualasimpang, sementara yang dari Banda Aceh dapat berbelok ke kiri saat mencapai Simpang Tiga Upah dan seterusnya melewati Titi Kuning. Ada juga jalan alternatif jalan lain dari Sumatera Utara, yaitu melalui jalan Salah Haji. Aku pernah melewati jalan tersebut saat banjir bandang di tahun 2006. Saat itu jalan Lintas Sumatera dari mulai perbatasan Aceh-Sumut sampai dengan Tualang Cut putus total. Aku melewati jalan kecil yang belum di aspal, di awali dari Simpang Tungkam yang berjarak kurang lebih 1 km sebelum perbatasan Aceh-Sumut, masuk ke dalam selama kurang lebih 2 jam naik sepeda motor (mobil pun bisa lewat), sementara waktu normal yang dibutuhkan untuk mencapai Kualasimpang dari mulai perbatasan hanyalah 20 menit. Tercatat juga Jalan Rantau – Kualasimpang pernah menjadi jalan alternatif Jalan Lintas Sumatera pada tahun 1997. Saat itu terjadi Blow Out sumur minyak Pertamina yang menutup jalan utama Lintas Sumatera di daerah Kecamatan Karang Baru.


Ada beberapa Landmark dari Kecamatan Rantau yang bisa aku tuliskan disini:

1. Tangki Raksasa

Tangki Raksasa terletak di daerah perbukitan Padang Golf milik PT. Pertamina yang berada di daerah desa Lumpuran. Tangki ini awalnya adalah tangki air berkapasitas 25.000 ton yang di bangun pada tahun 1970-an. Rencananya Tangki ini akan dipergunakan sebagai penampung air yang selanjut dialirkan ke Komplek Pertamina untuk memenuhi kebutuhan air warga. Sayangnya setelah tangki rampung dibangun dan diujicoba, pondasi penahan tangki tidak kuat dan miring ke arah jalan raya. Khawatir terjadi hal-hal yang buruk, maka Pertamina memutuskan untuk tidak menggunakan lagi tangki ini.

Tangki ini masih berdiri sampai sekarang. Sayangnya karena berada di daerah yang jarang penduduk, tangki ini sering digunakan pasangan muda-mudi untuk berbuat mesum.

Tangki Raksasa
2. Kompleks PT. Pertamina EP Field Rantau

Komplek yang telah kuceritakan sedikit di atas tadi merupakan tempat tinggal pegawai Pertamina. Di sinilah terjadi pertukaran informasi yang tergolong cepat yang menyebabkan majunya Rantau. Fasilitas yang ada di komplek ini cukup lengkap dan tersedia untuk umum. Mulai dari sekolah (TK, SD, SMP dan SMA), masjid, fasilitas olahraga, rumah sakit, sampai dengan penginapan pun ada disini.

Pintu Gerbang Komplek Pertamina Rantau


3. Prapen

Daerah ini adalah daerah penghasil kelapa sawit di Kecamatan Rantau. Perkebunan sawit terbentang luas di daerah ini. Daerah ini berbatasan dengan Sumatera Utara.

Prapen

4. Titi Kuning

Titi Kuning merupakan jembatan yang melintasi Sungai Tamiang, yang menghubungkan antara Kecamatan Rantau dengan Kecamatan Bendahara dan Karang Baru. Di jembatan ini kita dapat menikmati pemandangan yang lumayan indah dan angin yang segar. Pemandangan yang di dapat jauh lebih baik dari pada jembatan di Kota Kualasimpang. Padatnya kendaraan lintas Aceh yang melalui jembatan Kota Kualasimpang membuat kita susah untuk berhenti dari kendaraaan dan menikmati pemandangan. Sementara di Titi Kuning, kita bisa berhenti dari kendaraan dan menikmati pemandangan yang indah.

Titi Kuning



Geografis dataran rendah yang jauh dari gunung dan laut, membuat Rantau miskin akan daerah wisata. Dibandingkan dengan Sangkapane di Kecamatan Bandar Pusaka dan Pantai Brawe di Kecamatan Seruway, tidak ada wisata alami yang bisa kita temui di Rantau.

Rantau dan Banjir Bandang 2006

Pada Februari 2006, banjir bandang melanda sebagian besar Kabupaten Aceh Tamiang. Rantau tidak mengalami kerusakan fisik yang begitu parah, namun sekitar 70% dari Kecamatan Rantau terendam oleh air yang datang dari gunung. Karena letak Kecamatan Rantau yang sedikit ke dalam, maka bantuan untuk korban banjir sangat sulit di lakukan. Perahu dayung biasa agak berbahaya untuk melewati banjir tersebut di sebabkan oleh derasnya arus air saat itu. Bantuan yang bisa diharapkan saat itu adalah melalui perahu motor dan helikopter.

Waduh… koq bahasa blogku kali ini seperti bahasa Wikipedia?? Ah… Sudahlah… Yang penting informasinya nyampe…. Semoga tulisanku bisa jadi bahan referensi (kalau memang iya, jangan lupa tulis credit atau link ke sininya ya….:D). Oya, jika ternyata data yang aku buat salah, tolong kasi komentar ya (sertakan juga referensinya)… Biar kuperbaiki secepatnya

Terimakasih sebesar-besarnya untuk almarhum dan almarhumah Bapak dan Mamakku, H. Ahmad Jusuf, B.A. dan Hj. Paini yang telah memberikan informasi berharga ini.


Ini adalah reposting baca: http://benosolbraine.wordpress.com/2012/10/ dan http://ainanet2012.blogspot.com/2012/10/pindah-konten.html
Diposting di http://benosolbraine.wordpress.com/ pada 30 Desember 2011, dengan perubahan seperlunya


Tidak ada komentar:

Posting Komentar